Format PDF-nya rapi
Nyaman dibaca di tablet, catatan kakinya bisa diklik, dan pratinjaunya membuat saya yakin sebelum membeli.
Who am I dan historiografi filsafat Al-Qur’an
“Kisah Adam bukan sekadar berita tentang manusia pertama. Ia cermin: setiap orang menerima amanah, diberi ilmu, tergoda khuldi, dan tetap diberi jalan kembali.”
Dari seluruh pertanyaan yang bisa diajukan manusia, yang paling sulit justru yang paling pendek: siapa aku?
Buku ini membaca kisah Adam dalam Al-Qur’an sebagai kerangka menjawab pertanyaan itu. Adam menerima amanah, diajari nama-nama, ditawari khuldi — kekuasaan yang kekal — lalu jatuh, lalu bertobat. Empat babak itu, menurut penulis, terus berulang dalam hidup setiap orang dan dalam sejarah setiap bangsa.
Dibahas amanah sebagai beban yang ditolak langit dan bumi tetapi diterima manusia (QS Al-Ahzab 72), ilmu sebagai kemampuan menamai dan mencatat, al-qalam sebagai alat pewarisan, serta taubah sebagai kekuatan terbesar manusia — bukan kelemahannya.
Ditulis sebagai esai reflektif, bukan tafsir teknis. Untuk pembaca yang ingin memulai dari dirinya sendiri sebelum berbicara tentang peradaban.
Buku ini terdiri atas 238 halaman. Pratinjau gratis mencakup 8 halaman pertama.
| SKU | NAH-008 |
|---|---|
| Judul | Aku Adam |
| Penulis | Nunu A. Hamijaya |
| Penerbit | PUSBANGTER, Jatinangor |
| Tahun terbit | 2026 |
| ISBN | 978-623-1264-41-7 |
| Jumlah halaman | 238 halaman |
| Bahasa | Indonesia |
| Format | Buku Fisik |
| Ukuran berkas | 0.0 MB |
| Batas unduh | 5 kali, berlaku 1 tahun sejak pembelian |
Nyaman dibaca di tablet, catatan kakinya bisa diklik, dan pratinjaunya membuat saya yakin sebelum membeli.
Tidak menyangka buku sejarah bisa membuat saya merenung tentang diri sendiri. Bab tentang amanah saya baca berulang.
Bagian sejarah ini jarang dibahas terbuka. Terima kasih sudah menyusunnya dengan tertib dan bersumber.
Saya pakai bagian modul auditnya untuk kelas. Murid-murid akhirnya berdebat dengan argumen, bukan dengan emosi.
Penulis tidak memaksa pembaca setuju. Ia hanya membuka dokumen dan mempersilakan kita menilai sendiri.
Penulis tidak memaksa pembaca setuju. Ia hanya membuka dokumen dan mempersilakan kita menilai sendiri.
Piagam Jakarta, 57 hari, dan kalimat yang dicoret — Jilid II Tetralogi Islam Bernegara
Kontestasi kedaulatan dan transformasi konfigurasi negara Indonesia, 1945–1950 — Jilid IV
Kehendak Berpemerintahan Sendiri (Zelfbestuur 1916) — Jilid I Tetralogi Islam Bernegara